Sumenep – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di berbagai desa, Selasa (17/1/2023).
Pengabdian masyarakat ini merupakan implementasi dari mata kuliah KKN-T (Kuliah Kerja Nyata-Tematik) yang diambil oleh para mahasiswa UTM.

Pada semester ini (semester ganjil, red.) pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa UTM kembali menerapkan sistem “full time” di lokasi di berbagai desa di Pulau Madura.
Salah satu contoh pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa UTM adalah mahasiswa KKN-T Kelompok 15.
Kelompok ini melakukan pengabdian masyarakat di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep.
Perihal kegiatannya, Kelompok KKN-T 15 ini melakukan kegiatan pengabdian di berbagai bidang. Salah satunya adalah bidang pendidikan menggunakan media digital, seperti kegiatan bimbingan belajar menggunakan media digital.
Pelaksanaan kegiatan ini di SDN Dungkek 1 pada hari Selasa sampai Jumat Januari 2023.
Kegiatan tersebut diikuti siswa/i Kelas II, IV, V, dan VI. Dalam kegiatan ini, Kelompok KKN-T 15 menunjuk 4 orang dari anggota kelompok sebagai penanggung jawab utama. Tujuannya agar kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
Keempat penanggung jawab itu terdiri dari 3 mahasiswa Teknik Informatika dan 1 mahasiswi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG Paud).
Mereka itu adalah Kaffin Ahmad Mukhtasor, Bihubbil Choir Aidifta, Nofan Diaz Praditya, dan Gina Faradhiba Fathona.

Program kerja keempat mahasiswa tersebut adalah kegiatan pembelajaran pengenalan perangkat komputer, penggunaan aplikasi pengelola dokumen digital, dan praktik belajar menggunakan game edukasi.
Untuk pembelajaran pengenalan perangkat komputer, materi yang diajarkan berupa pengenalan terhadap perangkat keras dan lunak yang ada di komputer dan cara mengoperasikan beberapa aplikasi yang ada di komputer.
Salah satu contoh aplikasi yang digunakan sebagai bahan praktik para siswa adalah aplikasi Paint.
Pada pembelajaran penggunaan aplikasi pengelola dokumen digital, para siswa diajarkan untuk menggunakan aplikasi seperti Microsoft Word dan PowerPoint. Fokus pelatihan ini adalah siswa Kelas IV, V dan VI selama 3 hari.
Pelatihan ini bertujuan untuk melatih para siswa membuat dokumen secara digital. Pengetahuan akan bermanfaat bagi mereka dalam mengerjakan tugas belajar pada jenjang pendidikan yang selanjutnya.
Pengetahuan ini juga berguna untuk pekerjaan tertentu yang memerlukan dukungan dokumen dalam implementasinya.
Keempat mahasiswa tersebut juga membuat 2 game edukasi dengan nama Bermain, “Matematikaif ini Seru”.
Game tersebut difokuskan untuk siswa/i SD Kelas 2 dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan bermain yang menarik bagi anak dan menyenangkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas belajar anak.
Game ini juga dibuat untuk mengurangi stigma negatif terhadap game, yang dianggap merusak anak.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh para mahasiswa terhadap pihak sekolah, program kerja yang telah dilakukan oleh keempat mahasiswa tersebut mendapatkan respon yang cukup positif.
Respon positif tersebut, salah satunya disampaikan oleh Tutuk Nuryati, Wakil Kepala Sekolah SDN Dungkek 1.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, terkait pembelajaran digital, dia memberikan respon sebagai berikut.
“Mengenai pembelajaran digital mahasiswa UTM ini, saya merasa sangat senang sekali. Hal ini karena sekolah kami sendiri sudah memiliki fasilitas tapi belum digunakan secara maksimal,” katanya.
“Dengan hadirnya rekan-rekan mahasiswa UTM, yang mengusung tema pembelajaran digital di sekolah kami, saya berharap dapat memberikan dampak pada siswa/i dalam memahami hardware dan software komputer. Terutama, pembelajaran atau pelatihan dasar menggunakan aplikasi microsoft word,” ungkapnya lebih lanjut.
Sementara terkait dengan pengenalan game edukasi, dia memberikan respon sebagai berikut.
“Saya rasa pembelajaran berbasis game edukasi sangat sesuai dengan keadaan sekarang, yang mana generasi milenial sekarang hampir semuanya menggunakan HP,” ujanya.
“Ini merupakan suatu inovasi yang sangat luar biasa, karena anak anak tidak berasa seperti belajar tapi seperti bermain game, sehingga kami jadi tidak merasa bosan di kelas dan kami juga menjadi lebih gembira, padahal sedang melaksanakan proses pembelajaran,” ungkap dia samakan keseruan siswa.
