Jakarta – Bank Indonesia (BI) melaporkan perkembangan nilai tukar rupiah selama periode 28 Juli hingga 1 Agustus 2025. Data menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global dan domestik terkini.
Pada Kamis (31/07/2025), rupiah ditutup di level Rp16.450 per dolar AS. Sementara itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun meningkat menjadi 6,56%, menandai kenaikan dari sebelumnya.
Indeks dolar AS menguat ke level 99,97, menunjukkan penguatan mata uang dolar terhadap berbagai mata uang lain. Di sisi lain, yield UST 10 tahun turun menjadi 4,374%, mencerminkan pergerakan pasar obligasi global.
Pada Jumat (01/08/2025) pagi, rupiah dibuka di level Rp16.500 per dolar AS, sedikit melemah dari penutupan sebelumnya. Yield SBN 10 tahun tetap stabil di angka 6,56%, menunjukkan ketidakberubahan dalam pasar obligasi.
Aliran modal asing juga mengalami perubahan selama minggu keempat Juli 2025. Premi CDS Indonesia 5 tahun naik menjadi 71,40 basis poin, meningkat dari 69,94 basis poin pada 25 Juli 2025.
Data transaksi menunjukkan bahwa nonresiden melakukan jual neto sebesar Rp16,24 triliun selama periode 28-31 Juli 2025. Rinciannya, jual neto tercatat Rp2,27 triliun di pasar saham, Rp1,37 triliun di pasar SBN, dan Rp12,60 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025, nonresiden tercatat menjual neto sebesar Rp58,69 triliun di pasar saham dan Rp77,39 triliun di SRBI. Mereka juga melakukan pembelian neto sebesar Rp59,07 triliun di pasar SBN, menunjukkan dinamika aliran modal yang cukup signifikan.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik.
Bank Indonesia juga mengoptimalkan strategi kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Langkah ini penting agar nilai tukar rupiah tetap stabil dan mampu mengatasi tekanan dari pasar internasional.
