Jakarta – Gencatan senjata antara Israel dan Iran mulai berlaku pada Rabu (25/06/2025) ini, menandai akhir dari perang 12 (dua belas) hari yang menewaskan ratusan orang di kedua pihak. Menurut laporan media internasional, Al Jazeera, Presiden Donald Trump memainkan peran penting dalam meredam konflik setelah mengecam tindakan sepihak Israel, Rabu (25/06/2025).
Pemerintah Amerika Serikat (AS) membantah laporan intelijen yang menyebutkan serangan terhadap situs nuklir Iran gagal total. Gedung Putih mengklaim serangan itu hanya menunda program nuklir Iran selama beberapa bulan, namun tetap menjadi langkah strategis.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan setidaknya 610 orang tewas dalam konflik tersebut, termasuk 13 anak-anak. Sebanyak 3.056 orang lainnya mengalami luka-luka sejak Israel mulai menyerang pada 13 Juni.
Sementara itu, pihak Israel mencatat korban tewas sebanyak 28 orang akibat serangan Iran, dengan dampak signifikan di wilayah utara dan tengah. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap menyatakan bahwa Israel menang secara militer dan strategis.
Iran merespons klaim Netanyahu dengan menyatakan kemenangan rakyat, ditandai dengan perayaan besar di pusat kota Teheran. Pemerintah Iran menyebut hasil konflik ini sebagai “kemenangan atas agresi” yang mengancam kedaulatan negara mereka.
Dalam sebuah pernyataan, sumber yang dikutip oleh Al Jazeera menyebut bahwa perundingan gencatan senjata berlangsung intensif selama dua hari terakhir. Sumber itu menyatakan bahwa tekanan diplomatik dari Washington menjadi faktor kunci tercapainya kesepakatan.
Perang ini turut memperparah kondisi di Gaza, di mana serangan Israel menewaskan lebih dari 56.000 orang dan melukai lebih dari 130.000 lainnya. Jumlah ini menambah deretan korban sejak konflik besar dimulai pada 7 Oktober tahun lalu.
Di pihak Israel, sekitar 1.139 orang tewas dalam serangan balasan Hamas pada Oktober, dengan lebih dari 200 warga sipil masih ditawan hingga kini. Perang regional ini menjadi eskalasi paling mematikan dalam sejarah konflik modern Timur Tengah.
Meskipun gencatan senjata kini berlaku, para analis menilai perdamaian masih bersifat rapuh dan mudah berubah. Ketegangan diplomatik antara kekuatan regional dan global tetap tinggi, terutama menyangkut program nuklir Iran dan peran AS.
