Harta dan Rumah Ludes Dilalap Api, Musji: Kopiah Ini Pun Milik Cucu Saya

Puing-puing rumah Musji pasca mengalami kebakaran
Puing-puing rumah Musji pasca mengalami kebakaran (Sumber Foto: Madurapers, 2025).

Sampang Asap pekat dan jilatan api yang membubung tinggi menjadi pertanda akhir tragis bagi rumah sederhana milik Musji, warga Dusun Toguran, Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura.

Kebakaran yang terjadi pada Minggu sore, 25 Mei 2025, itu telah meluluhlantakkan seluruh isi rumah, menyisakan hanya puing-puing hangus dan duka mendalam.

Tidak ada yang bisa diselamatkan dari kejadian tersebut. Musji, yang saat itu sedang berada di kebun, mengaku tak percaya ketika cucunya datang tergopoh-gopoh sambil berteriak bahwa rumah mereka terbakar hebat.

“Saya kaget saat dipanggil pulang oleh cucu saya dari kebun. Ternyata rumah sudah terbakar besar,” kisah Musji, saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (26/05/2025).

Lebih memilukan lagi, selain kehilangan tempat tinggal, Musji dan istrinya juga kehilangan seluruh harta benda yang selama ini mereka kumpulkan dengan susah payah.

Uang tunai senilai Rp25 juta serta perhiasan emas milik sang istri yang ditaksir bernilai lebih dari Rp100 juta ikut ludes dilalap api.

“Adek kappi tak akareh,” ucap Musji dalam bahasa Madura yang berarti “Habis semua tak tersisa.”

“Kalung, cincin, gelang, anting, semua milik istri saya. Kalau dijual sekarang mungkin bisa lebih dari 100 juta,” tambahnya lirih.

Kini, pria lanjut usia itu hanya bisa pasrah. Tak ada lagi yang tersisa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.

“Pakaian cuma yang saya pakai ini. Bahkan kopiah ini pun milik cucu saya,” ucap Musji sembari menunduk, menyeka air mata yang nyaris tumpah.

Musji juga mengaku bingung soal asal mula api. Ia menyebut tidak ada aktivitas memasak atau sumber api terbuka di rumah saat kejadian. Dapurnya yang juga hangus, bahkan tidak menggunakan gas LPG.

“Saya juga heran dari mana api itu muncul. Tidak ada gas, tidak sedang menyalakan api,” ujarnya.

Kondisinya yang kini sebatang kara, tanpa rumah, tanpa harta, hanya mengandalkan uluran tangan dan harapan.

“Semoga pemerintah peduli dan membantu kami. Saya sudah tua, tidak punya apa-apa lagi,” ungkap Musji, penuh harap.

Menanggapi peristiwa tersebut, Penjabat (Pj) Kepala Desa Tlagah, Ayyub, menyatakan akan segera melaporkan kejadian ini kepada Pemerintah Kabupaten Sampang agar mendapatkan penanganan.

“Mudah-mudahan dapat perhatian secepatnya,” ujar Ayyub singkat.

Kini, yang tersisa di Dusun Toguran hanyalah puing rumah yang menjadi saksi bisu betapa cepat segalanya bisa berubah dalam sekejap. Musji hanyalah satu dari sekian banyak warga kecil yang berharap negara hadir saat semuanya telah tiada.