Iran Desak PBB Umumkan AS dan Israel sebagai Agresor atas Serangan ke Wilayahnya

Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, aktif menyampaikan sikap resmi Teheran terkait isu internasional dan secara rutin menanggapi kebijakan Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Eropa dalam konferensi pers mingguan yang mencerminkan posisi politik dan diplomatik Iran di tengah ketegangan regional.
Esmaeil Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran, aktif menyampaikan sikap resmi Teheran terkait isu internasional dan secara rutin menanggapi kebijakan Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Eropa dalam konferensi pers mingguan yang mencerminkan posisi politik dan diplomatik Iran di tengah ketegangan regional. (Sumber foto: IRNA, 2025)

Teheran – Iran menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel telah melakukan tindakan agresi terhadap Iran dan menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi mengumumkan kedua negara tersebut sebagai agresor. Dalam laporan resmi yang dikutip dari Islamic Republic News Agency (IRNA), Minggu (30/06/2025), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB harus bertindak untuk meminta pertanggungjawaban dari kedua negara tersebut.

Baqaei menyampaikan pernyataan ini dalam konferensi pers mingguan di Teheran, seraya menyebut tindakan militer AS dan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Piagam PBB. Mengutip IRNA, Baqaei menegaskan, “Apa yang terjadi adalah tindakan agresi dengan segala karakteristiknya, berdasarkan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Diplomat senior itu menyoroti posisi negara-negara Eropa yang ia anggap permisif terhadap tindakan Israel, khususnya Jerman dan Prancis. Ia mengkritik pejabat Jerman yang menyebut agresi Israel sebagai “pekerjaan kotor”, dan menyebutnya sebagai aib sejarah bagi Eropa.

Baqaei juga menyinggung peran Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dengan mengatakan lembaga tersebut memiliki kewajiban teknis yang tidak boleh dicampuri motif politik. Ia menyatakan bahwa perhatian dunia seharusnya tidak teralihkan dari pelanggaran hukum internasional oleh AS dan Israel atas fasilitas nuklir damai milik Iran.

Menanggapi pernyataan menghina Presiden AS, Donald Trump, terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Baqaei menyebut komentar itu sebagai provokasi yang menyakitkan. Ia memperingatkan bahwa hal itu hanya akan meningkatkan kebencian terhadap kebijakan luar negeri Washington di dunia Islam.

Mengenai hubungan dengan tiga negara Eropa dalam kesepakatan nuklir 2015, Baqaei mengatakan bahwa komunikasi diplomatik dengan Inggris, Prancis, dan Jerman tetap berlangsung, namun belum ada tanggal pasti untuk perundingan berikutnya. Putaran terakhir pembicaraan berlangsung pada 20 Juni lalu.

Baqaei memastikan bahwa negara-negara tetangga Iran telah menjamin mereka tidak akan mengizinkan Israel menggunakan wilayah udara mereka untuk menyerang Iran. Ia menyatakan bahwa hubungan baik dan komitmen terhadap hukum internasional menjadi dasar dari jaminan tersebut.

Pemerintah Iran juga telah mengirimkan sedikitnya sepuluh surat kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk mendokumentasikan kekejaman Israel, terutama terhadap fasilitas pendidikan dan ilmuwan Iran. Menurutnya, Kementerian Sains Iran telah menyerahkan laporan pelanggaran ini kepada UNESCO sebagai bagian dari upaya diplomatik.

Juru bicara itu menuding Amerika Serikat telah mengkhianati proses diplomatik dengan terlibat langsung dalam agresi Israel terhadap Iran. “Tidak dapat diharapkan bahwa insiden ini tidak akan mempengaruhi kelanjutan perundingan,” ujarnya dalam konferensi pers.

Merespons serangan terhadap fasilitas nuklir, parlemen Iran baru saja mengesahkan undang-undang yang membatasi kerja sama dengan IAEA, yang kini menjadi kebijakan yang mengikat pemerintah. Baqaei mempertanyakan bagaimana Iran dapat menjamin keamanan bagi inspektur IAEA sementara fasilitasnya menjadi target serangan.

Militer Iran, lanjutnya, telah menunjukkan kesiapan penuh dalam beberapa pekan terakhir untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman eksternal. Hal itu menurutnya menjadi bentuk pencegahan penting terhadap potensi petualangan militer dari pihak musuh.

Dalam komentarnya tentang keterlibatan Prancis dalam agresi tersebut, Baqaei mengatakan bahwa tindakan Paris mencegat pesawat tak berawak Iran merupakan bentuk partisipasi aktif dalam konflik. Ia menegaskan bahwa Prancis harus bertanggung jawab atas keterlibatannya dalam mencegah hak Iran untuk membela diri.

Terkait laporan penahanan 670 warga Iran oleh otoritas AS, Baqaei mengatakan bahwa tindakan itu bertentangan dengan standar hak asasi manusia. Ia menambahkan bahwa Kementerian Luar Negeri tengah menindaklanjuti kasus ini melalui Bagian Kepentingan Iran di Washington.

Baqaei memperingatkan bahwa normalisasi terhadap kejahatan Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah akan membuka jalan bagi terulangnya kekejaman serupa. Ia menyerukan kepada komunitas internasional untuk tidak bersikap pasif dan segera mengambil tindakan kolektif.

Mengenai ancaman Barat untuk menggunakan “mekanisme snapback” guna memulihkan sanksi PBB terhadap Iran, Baqaei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan yang tidak rasional. Ia menyatakan bahwa negosiasi berdasarkan tekanan semacam itu “tidak ada artinya.”

Akhirnya, Iran berkomitmen menjaga keamanan seluruh kedutaan asing di wilayahnya sebagai bentuk tanggung jawab internasional. Ia menambahkan bahwa beberapa diplomat asing akan kembali ke Iran dalam waktu dekat.