Bangkalan – Pengaduan dan teriakan Penitia Pemungutan Suara (PPS) Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, terkait gaji 2 (dua) bulan tak kunjung dicairkan dan dugaan pemotongan biaya operasional (BOP), viral di media sosial (medsos) beberapa pekan ini, Sabtu (23/11/2024).
Akibatnya, salah PPS Sepulu melakukan arogansi hingga merobek simulasi plano sebagai bentuk kekecewaan, karena sampai detik ini gaji belum kunjung dicairkan. Oleh sebab itu, PPS Kecamatan Sepulu sepakat untuk mongok kerja.
Masalah itu disampaikan oleh Muzayyin, anggota PPS Desa Gunilap Sepuluh, saat memberikan keterangan kepada media ini. Pihaknya kecewa karena gajinya tidak dicairkan selama dua bulan. Akibatnya, dia merobek dan membakar simulasi plano.
“Kami beberapa PPS Kecamatan Sepulu akan mogok kerja, jika gaji belum dicairkan. Oleh sebab itu, PPK dan KPU (Komisi Pemilihan Umum) harus bertanggungjawab dengan masalah ini,” tegas dia, Kamis (21/11/2024).
Selain itu, ada dugaan pemotongan BOP PPS sebesar Rp350, yang diduga dilakukan oleh Penitia Pemilihan Kecamatan (PPK), dengan alasan Surat Pertanggungjawaban (SPJ). Padahal, SPJ yang dimaksud sudah selesaikan sejak lama.
“Padahal SPJ lama selesai, tapi sama Mukaffi memang sengaja bilang ke KPU untuk ditahan, karena PPS ngak setor SPJ. Itu saya tanya sendiri ke KPU. Jadi, by request Mukaffi dan saya tanya sendiri ke Ali, katanya memang sengaja biar PPS lok gomajago (sok hebat, red.) ke PPK,” ungkap pesan yang dikirim ke media ini.
Ketika, awak media ini meminta tanggapan dan keterangan secara rinci ke KPU Bangkalan, Ketua KPU Kabupaten Bangkalan, Elmi Abbas, belum memberikan tanggapan hingga berita ini ditayangkan.
