Menlu Iran Kecam Jerman atas Dukungannya terhadap Israel

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam pemerintah Jerman atas “dukungan eksplisitnya” terhadap perang agresi Israel selama 12 hari terhadap Iran, dan mengatakan hal itu mengirimkan “pesan yang menghancurkan” kepada warga Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam pemerintah Jerman atas “dukungan eksplisitnya” terhadap perang agresi Israel selama 12 hari terhadap Iran, dan mengatakan hal itu mengirimkan “pesan yang menghancurkan” kepada warga Iran. (Foto: IRNA, 2025)

Teheran – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi mengecam keras posisi pemerintah Jerman yang mendukung serangan militer Israel terhadap negaranya, yang telah berlangsung selama hampir dua pekan. Dalam informasi yang dikutip dari kantor berita IRNA, Menlu Iran menyebut dukungan tersebut sebagai “pesan yang menghancurkan” bagi rakyat Iran.

Araghchi menyampaikan pernyataan pedasnya melalui akun X pribadinya pada Kamis (03/07/2025), sekaligus membantah klaim Kantor Luar Negeri Jerman yang menuding Iran telah menghalangi pengawasan internasional terhadap program nuklirnya. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai “berita palsu” dan mengatakan bahwa Iran tetap berpegang teguh pada Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

Menurut Araghchi, undang-undang baru yang disahkan parlemen Iran pada 24 Juni adalah reaksi terhadap serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap instalasi nuklir Iran. Ia menegaskan bahwa mulai saat ini, kerja sama nuklir akan disalurkan hanya melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) untuk alasan keamanan nasional.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah menginstruksikan semua lembaga pemerintah untuk menerapkan undang-undang baru tersebut mulai Rabu (02/07/2025). Ketentuan tersebut mencabut izin otomatis bagi inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk mengakses fasilitas nuklir Iran tanpa persetujuan SNSC.

Serangan Israel yang terjadi pada malam 13 Juni 2025 dianggap oleh Iran sebagai tindakan agresi tak berdasar. Dalam serangan tersebut, sejumlah tokoh penting militer dan ilmuwan Iran tewas, termasuk warga sipil dan anak-anak yang menjadi korban dalam pemboman area permukiman.

Iran juga mencatat keterlibatan Amerika Serikat (AS) yang, pada 22 Juni 2025, melakukan pelanggaran wilayah udara dan menyerang tiga fasilitas nuklir. Total korban tewas akibat serangan gabungan ini mencapai 935 orang, termasuk 140 wanita dan anak-anak, serta lebih dari 5.640 orang mengalami luka-luka.

Teheran juga mengecam peran IAEA yang dianggap berpihak dalam konflik ini. Iran menyebut Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, telah menyajikan laporan menyesatkan yang kemudian dijadikan pembenaran oleh Israel dan AS untuk melakukan serangan terhadap Iran.

Menanggapi kritik Jerman, Menlu Iran, Araghchi menegaskan bahwa justru dukungan Berlin terhadap agresi Israel-lah yang benar-benar “mengirimkan pesan menghancurkan” bagi Iran. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap penolakan Jerman untuk mematuhi komitmennya dalam kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

“Orang Iran sudah muak dengan dukungan Jerman terhadap Genosida di Gaza yang bergaya Nazi, dan dukungannya terhadap perang Saddam terhadap Iran,” ujar Araghchi tanpa tedeng aling-aling. Ia menyiratkan bahwa luka sejarah belum pernah sembuh di mata rakyat Iran.

Menurutnya, dukungan Jerman terhadap Israel telah menghapus dugaan bahwa Berlin menyimpan empati terhadap rakyat Iran. Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk “dendam sejarah yang tak pernah benar-benar padam.”

Kritik tajam dari Araghchi mencerminkan ketegangan baru dalam hubungan Iran dengan negara-negara Eropa, terutama setelah terjadinya eskalasi militer yang melibatkan Israel, AS, dan kini respons politik dari Jerman. Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tunduk pada tekanan luar.