Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bangkalan Turun, tapi Ancaman Mengintai Lulusan SMP-SMK

Ilustrasi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada tahun 2024
Ilustrasi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada tahun 2024 (Dok. Madurapers, 2025).

Bangkalan – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bangkalan pada Agustus 2024 menunjukkan penurunan signifikan. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangkalan, angka TPT berada di posisi 5,35 persen, atau turun sebesar 0,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski tren menurun, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa dari setiap 100 angkatan kerja, masih terdapat sekitar 5 hingga 6 orang yang menganggur. Dalam konteks ini, penganggur mencakup mereka yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, atau bahkan yang telah putus asa dalam mencari pekerjaan.

TPT yang lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan kembali terlihat pada Agustus 2024. TPT laki-laki tercatat sebesar 5,42 persen, sementara perempuan sebesar 5,25 persen, mencerminkan pola tradisional peran gender dalam masyarakat Bangkalan.

BPS Bangkalan menyebutkan bahwa beban sosial sebagai pencari nafkah utama masih lebih sering diberikan kepada laki-laki. Sementara itu, perempuan kerap lebih dibebani peran domestik, sehingga angka pengangguran mereka sedikit lebih rendah namun tetap signifikan.

Kabar baiknya, baik TPT laki-laki maupun perempuan menunjukkan penurunan dibandingkan Agustus 2023. Ini menunjukkan perbaikan secara umum dalam struktur ketenagakerjaan meskipun ketimpangan gender tetap menjadi catatan penting.

Dari sisi pendidikan, kelompok lulusan SMP mencatat TPT tertinggi, yaitu 11,56 persen, disusul oleh lulusan SMK dengan 10,97 persen. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kompetensi pendidikan menengah dengan kebutuhan pasar kerja.

Menariknya, TPT lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Ini bisa diartikan sebagai adanya perbaikan dalam kualitas lulusan atau penyerapan tenaga kerja yang lebih baik di sektor-sektor tertentu.

Namun, peningkatan TPT justru terjadi pada kelompok pendidikan dasar, yakni lulusan SD ke bawah dan SMP. Keterbatasan keterampilan dan rendahnya daya saing diyakini menjadi penyebab utama lonjakan ini.

BPS Bangkalan mencatat bahwa pada Agustus 2024, dari 100 orang lulusan SD ke bawah, terdapat sekitar 2 hingga 3 orang yang menganggur. Sementara itu, dari 100 lulusan SMP, sekitar 11 hingga 12 orang belum terserap dalam pasar kerja.

Situasi ini menegaskan pentingnya perhatian pemerintah daerah terhadap sektor pendidikan dan pelatihan vokasional. Strategi peningkatan kualitas tenaga kerja perlu difokuskan pada kelompok pendidikan menengah ke bawah yang paling rentan terhadap pengangguran.