Bangkalan – Dawet merupakan minuman tradisional khas Indonesia yang terdiri dari cendol, santan, dan gula merah cair. Sajian ini biasa disertai es serut yang menyegarkan dan bercita rasa manis gurih.
Minuman tradisional ini populer di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Cita rasanya yang unik membuat dawet tetap diminati lintas generasi.
Dawet berasal dari Desa Jabung, Ponorogo, yang dikenal sejak abad ke-10. Catatan tentang dawet ditemukan dalam prasasti Taji Ponorogo.
Pada abad ke-15, Bupati Ponorogo Bathoro Katong kembali mempopulerkannya. Ia menggunakan dawet sebagai sarana pengobatan bagi orang sakit.
Seiring waktu, dawet menyebar ke berbagai daerah dan mengalami perkembangan. Ragam variasi dawet kini menghiasi kuliner Nusantara.
Beberapa jenis dawet yang terkenal antara lain Dawet Jabung Ponorogo, Dawet Ayu Banjarnegara, dan Dawet Ireng Purworejo. Jenis lainnya termasuk Dawet Jepara, Dawet Semarangan, Dawet Kudus, serta Dawet Pesantenan Pati.
Untuk membuat dawet, bahan-bahan utama yang dibutuhkan meliputi cendol, tape singkong, santan, dan sirup gula merah. Cendol dibuat dari tepung beras, tepung tapioka, pasta pandan, garam, dan air.
Langkah pertama adalah mencampur bahan cendol lalu memasaknya hingga mengental. Setelah matang, adonan cendol dicetak langsung ke air dingin.
Selanjutnya, larutkan fiber creme dalam air hangat untuk menggantikan santan segar. Didihkan gula merah bersama pandan untuk membuat juruh.
Penyajian dawet dimulai dari menuang juruh, menambahkan cendol dan tape, lalu menyiramkan santan ke dalam gelas. Minuman ini siap disajikan dalam kondisi dingin.
Dawet tidak hanya menawarkan kesegaran, tetapi juga menjadi simbol budaya kuliner tradisional Indonesia. Minuman ini terus lestari berkat kreativitas masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan warisan lokal.
