Ukraina Desak Jerman Kirim Lebih Banyak Amunisi dan Latih Pilot

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba berbicara kepada media selama pertemuan pers di Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar PBB di New York City, New York, AS, 24 Februari 2023. REUTERS/David Dee Delgado/File Foto
Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba berbicara kepada media selama pertemuan pers di Perserikatan Bangsa-Bangsa di markas besar PBB di New York City, New York, AS, 24 Februari 2023. REUTERS/David Dee Delgado/File Foto (Sumber: Reuters, 2023).

Berlin – Menteri Luar Negeri Ukraina, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Minggu, mendesak Jerman untuk mempercepat pasokan amunisi dan untuk memulai pelatihan pilot Ukraina dengan jet tempur Barat, Minggu (12/3/2023).

Sebagaimana diberitakan Reuters, Dmytro Kuleba mengatakan kepada surat kabar Bild am Sonntag, bahwa kekurangan amunisi adalah masalah “nomor satu” dalam upaya Ukraina mengusir invasi Rusia.

Dia mengatakan, produsen senjata Jerman telah memberitahunya di Konferensi Keamanan Munich bulan lalu bahwa mereka siap mengirimkannya, tetapi menunggu pemerintah untuk menandatangani kontrak. “Jadi masalahnya terletak pada pemerintah,” kata Kuleba.

Kuleba menegaskan dia tidak mengharapkan sekutu Barat untuk memberikan Ukraina jet tempur yang telah dimintanya dalam waktu dekat.

Tapi dia mengatakan pilot Ukraina harus dilatih. Jadi, mereka akan siap setelah keputusan itu diambil, tulis surat kabar itu.

Jika Jerman melatih pilot Ukraina, maka itu akan menjadi “pesan yang jelas tentang keterlibatan politiknya”, katanya.

Secara terpisah, Kuleba mengatakan Ukraina akan terus mempertahankan kota Bakhmut, yang menjadi fokus serangan Rusia selama enam bulan terakhir.

“Jika kita mundur dari Bakhmut, apa yang akan berubah? Rusia akan mengambil Bakhmut dan kemudian melanjutkan serangannya terhadap Chasiv Yar, sehingga setiap kota di belakang Bakhmut bisa mengalami nasib yang sama.

Ditanya berapa lama pasukan Ukraina dapat bertahan di kota itu, dia menolak untuk memberikan jawaban spesifik, membandingkan mereka dengan orang-orang yang mempertahankan rumah mereka dari penyusup yang mencoba membunuh mereka dan mengambil semua yang mereka miliki.

Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai “operasi militer khusus” untuk memerangi apa yang digambarkannya sebagai ancaman keamanan dari hubungan Ukraina dengan Barat, sebuah argumen yang ditolak Kyiv dan Barat.